Mahasiswa Pecinta Alam Civics Hukum (MAPACH) FPIPS UPI mengadakan kegiatan DASUKI (Datangi, Susuri, Perbaiki) di Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kabupatan Sukabumi. Sabtu-Minggu (04-05/12/2021). Kegiatan yang bertemakan “Menumbuhkan Gerakan Cinta Lingkungan Demi Hidup Berdampingan Dengan Alam”. Kegiatan ini merupakan rangkaian kaderisasi Brigade 36. Adapun maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini, yakni:
- Sebagai program lanjutan dari Diklatsar dan Follow Up
- Mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai peraturan menteri tentang dilarangnya penangkapan impun
- Membantu masyarakat agar dapat memahami bagaimana caranya untuk memaksimalkan SDA disekitar
- Membantu menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya kebersihan lingkungan an menjaga kebersihan alam
- Mengamati dan mempelajari kebiasaan/adat masyarakat di sekitar pantai Karang Hawu.
Kecamatan Palabuhanratu merupakan salah satu basis perikanan tangkap untuk wilayah penangkapan di Laut Selatan Jawa dan Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia (ZEEI) diPerairan Samudera Hindia. Oleh karena itu penangkapan ikan sering dilakukan oleh masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun sekedar menangkap ikan tanpa tujuan ekonomis. Seperti yang terjadi di wilayah Pantai Citepus, masyarakat lokal selalu menangkap ikan impun untuk dijadikan konsumsi dan untuk dijual karena ikan impun memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Tetapi dibalik seringnya masyarakat setempat yang menangkap ikan, menjadikan populasi ikan impun semakin berkurang, hal ini disampaikan oleh menteri kelautan mengenai berkurangnya populasi ikan impun.
Oleh karena itu menteri kelautan menghimbau masyarakat untuk tidak menangkap ikan impun agar tidak terjadi kepunahan. Tetapi upaya yang dilakukan menteri kelautan tidak berjalan mulus, pasalnya masih banyak masyarakat yang sering menangkap ikan impun. Potensi laut di Palabuhanratu yang kaya sumber daya alam seharusnya dapat dijadikan sebagai mesin pertumbuhan dan pemerataan ekonomi baru bagi kesejahteraan masyarakat. Namun ironisnya di tengah sumber daya alam khususnya dalam bidang perikanan melimpah kehidupan ekonomi dari masyarakat nelayan di Pelabuhanratu ini pun masih terbilang berada di bawah garis kemiskinan khususnya bagi mereka para nelayan tradisional dan buruh, seperti halnya pada masyarakat nelayan Indonesia pada umumnya, para nelayan hanya bisa memenuhi kebutuhan primer saja karena hasil tangkapan ikan yang mereka dapatkan masih sangat minim.
Dalam permasalahan di atas mengenai kurangnya kesadaran masyarakat setempat mengenai penangkapan ikan impun yang menyebabkan kepunahan dan kurang maksimalnya pengelolaan sumber daya alam di daerah pantai Palabuhan ratu, Maka dari itu sebagai bentuk perwujudan kepada masyarakat, kami sebagai siswa dari Mahasiswa Pecinta Alam Civics Hukum (MAPACH), akan mengadakan kegiatan DASUKI (Datangi, Susuri, Perbaiki) yang didalamnya terdapat kegiatan kealaman sebagai bentuk pengasahan ilmu-ilmu kealaman yang sudah dilakukan sebelumnya serta mengkolaborasikan dengan kegiatan pengabdian sebagai bentuk kepedulian kami terhadap masyarakat dan lingkungan.
Pelaksanaan Dasuki diawali Pemberangkatan pada hari Jumat 3 Desember 2021 pukul 06.00 WIB dengan diikuti oleh 24 orang yang terdiri dari 10 orang Anggota Muda MAPACH dan 14 orang Anggota Penuh MAPACH menggunakan Bekang dan 10 orang lagi menyusul menggunakan motor menuju tempat singgah. Kegiatan diawali dengan menyiapkan peralatan serta pembekalan untuk kegiatan di hari esok.
Pada pukul 21.00 kami memulai briefing untuk kegiatan diesok hari. Briefing diawali dengan pemaparan teknis kegiatan serta hambatan-hambatan yang mungkin terjadi saat diperjalanan. Pada briefing kali ini, kami lebih memantapkan konsep serta teknis kegiatan untuk esok hari. Seperti, memperkirakan esimasi jarak untuk istirahat, waktu untuk beristirahat, serta kemungkinan-kemungkinan burk seperti faktor cuaca dan hambatan lainnya. Selesai briefing dilanjutkan untuk beristirahat hingga pukul 04.00 pagi.
Pada pukul 06.00 setelah semua siap, kami langsung berangkat menuju Karanghawu untuk memulai susur pantai. Sebelum itu diadakan upacara untuk membuka kegiatan DIKLANJUT yang dihadiri oleh Sekertaris Umum GYF dan dibuka oleh Ketua Adat Arya “Urut” Destian. Lalu pada pukul 07.15 kami mulai untuk susur pantai. Namun ditengah perjalanan kami melakukan sosiologi pedesaan kepada pengunjung Pantai Karanghawu dan ternyata disela perjalanan ada arus sungai yang sangat deras sehingga memakan waktu saat perjalanan, maka dari itu akhirnya beberapa orang melambung melewati sawah untuk sampai ke jalan raya dan sisanya tetap melanjutkan untuk melewati sungai.
Lalu saat diperjalanan terdapat arus sungai yang deras lagi sehingga akhirmya kamu membagi tim kami menjadi 2 untuk menyiapkan seminar yang bertempat di Desa Citepus. Setibanya tim 2 di Desa Ciitepus, kami langsung memulai acara seminar dengan judul “Pengelolaan Sumberdaya Ikan Berkelanjutan melalui Pendekatan Ekosistem”. Setelah seminar selesai peserta mulai mendirikan tenda, lalu diadakan makan malam bersama dengan seluruh peserta dilanjutkan dengan acara malam keakraban dihadapan api unggun selama sekitar 2 jam setelah itu seluruh peserta istirahat.
Di hari kedua tepatnya hari Minggu tanggal 5 Desember 2021 diadakan sarapan bersama serta peregangan badan dan dilanjutkan perjalanan sampai Batu Bintang. Lalu, setibanya di Pelabuhan Ratu, kami melakukan wawancara kepada para nelayan terkait penelitian yang akan kami bahas, yaitu mengenai “Analisis Kesadaran Hukum terkait Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan No 2/2015 tentang larangan penggunaan alat penangkapan ikan dan akibatnya bagi mata pencaharian masyarakat Desa Citepus“. Setelah selesai mencari informasi, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Batu Bintang. Setibanya di Batu Bintang kami beristirahat dan dilanjutkan masak untuk makan bersama.
Lalu pada pukul 13.00 kami melakukan penanaman pohon dan bersih-bersih pantai bersama LSM Dampal Jurig dalam memperingati HUT ke-29 LSM Dampal Jurig. Rayksa “Suhe” Agia Pandu Perdana, sebagai ketua pelaksana “Banyak pelajaran yang bisa kita ambil selama kegiatan, banyak hal yang bikin kita bisa saling mengerti,saling memahami,saling support yang bisa bikin kita terus jalan sama-sama. Semoga kegiatan yang telah dilaksanakan memberikan dampak positif bagi diri kita, orang lain maupun masyarakat sekitar yang merasakan kebermanfaatan dari kegiatan yang sudah kita lalui, semoga tetap bersama untuk rumah yang utuh.”
Sementara itu, menurut Ketua Adat Arya “Urut” Destian, menuturkan bahwa agenda dasuki yg merupakan rangkaian kaderisasi di mapach tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Tentunya cukup berkesan karena bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat dan dapat bekerja sama dengan LSM GYF dan dampal jurig sebagai bentuk kolaborasi mapach dengan elemen-elemen masyarakat. Ada pesan yang ingin disampaikan dalam kegiatan ini untuk masyarakat diharapkan dapat bersama-sama menjaga lingkungan secara berkelanjutan agar anak cucu kita dapat merasakan anugrah semesta alam untuk manusia. Untuk anggota muda, masih banyak yang harus diperbaiki dalam membuat sebuah acara untuk dapat menjadi anggota penuh, diharapkan kekurangan pada acara tersebut dapat menjadi pelajaran bagi anggota muda kedepannya. Untuk seluruh anggota mapach. Teruslah berproses bersama, masih banyak wadah di mapach untuk berkarya. Jangan lupa jalan pulang, mapach mapach mapach.
Acara Dasuki (Datangi, Susuri, Perbaiki) ditutup dengan penyematan syal MAPACH oleh Anggota Penuh dan Anggota Kehormatan MAPACH sambil menyanyikan hymne MAPACH dengan penuh suasana haru dan bangga. SALAM MAPACH! (Aulia “Tungkul” Rahmawati dan Ingrid “Ungkig” Shintia Arsy)
1 Comments
Mantappppp
ReplyDelete