Kegiatan ekspedisi ini merupakan wujud nyata pelaksanaan dua pilar sekaligus, yaitu pengabdian kepada masyarakat dan riset kebudayaan yang dilandasi nilai-nilai akademis. Rangkaian kegiatan dibuka secara resmi pada Rabu, 17 Juni 2026, melalui Upacara Pelepasan Ekspedisi Kerinci 3.805 MDPL yang diselenggarakan di Halaman Belakang University Center. Upacara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh jajaran pengurus organisasi, dengan sambutan resmi dari Pembina MAPACH, Dr. Asep Mahpudz, M.Pd., serta Ketua Program Studi PPKn Terintegrasi, Dr. Syaifullah, M.Si. Prosesi turut diisi dengan pembacaan Kode Etik Pecinta Alam dan penyampaian laporan kesiapan teknis oleh Ketua Pelaksana.
Dokumentasi Pelepasan Ekspedisi
Sumber: Mapach (2026)
Mobilisasi tim dimulai pada Kamis, 18 Juni 2026. Sejak pukul 05.00 WIB, seluruh anggota telah bersiap untuk bergerak menuju Terminal Caringin menggunakan angkutan kota, sebelum melanjutkan perjalanan lintas pulau dengan bus ekspres tujuan Bandung-Bangko, Jambi. Perjalanan ini ditempuh selama kurang lebih 33 jam, terdiri atas 29 jam perjalanan darat dan 4 jam penyeberangan menggunakan kapal.
Dokumentasi Keberangkatan menuju Kota Bangko, Jambi
Sumber: Mapach (2026)
Tim tiba dengan selamat di titik transit pertama pada Jumat, 19 Juni 2026 pukul 17.00 WIB, yaitu di Sekretariat Mapala Mata Angin, Universitas Merangin, Bangko, Jambi. Setibanya di lokasi, tim langsung melakukan pemulihan kondisi fisik, briefing teknis, serta beristirahat guna mempersiapkan agenda keesokan harinya.
Pada Sabtu, 20 Juni 2026, tim melaksanakan program pengabdian masyarakat secara adaptif dan kolaboratif dengan mengunjungi Pondok Pesantren Al-Khafidh Merangin di Lingkungan Mensawang, Dusun Bangko. Di lokasi tersebut, tim menyelenggarakan sosialisasi edukatif mengenai nilai-nilai kewarganegaraan bagi para santri. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sambutan dari ketua adat setempat dan ketua yayasan pondok pesantren, serta diakhiri dengan penyerahan apresiasi/sertifikat dan sesi dokumentasi bersama.
Dokumentasi Pengabdian di Pondok Pesantren Al-Khafidh
Sumber: Mapach (2026)
Setelah menuntaskan seluruh agenda pengabdian masyarakat pada siang hari, tim segera mempersiapkan logistik untuk melanjutkan perjalanan menuju Sungai Penuh. Menggunakan mobil travel selama sekitar 4 jam, tim tiba di Sekretariat MAPALA STIE Sakti Alam Kerinci (WAPALSTIE) pukul 17.30 WIB. Kunjungan antarorganisasi ini dimanfaatkan sebagai ajang konsolidasi, koordinasi wilayah, dan transfer pengetahuan, sekaligus briefing teknis untuk mematangkan kesiapan tim sebelum riset lapangan keesokan harinya.
Puncak riset kebudayaan dalam ekspedisi ini berlangsung pada Minggu, 21 Juni 2026. Sejak pagi hari, tim berjalan kaki bersama-sama dari Sekretariat WAPALSTIE menuju lokasi penelitian di Kecamatan Koto Baru, Sungai Penuh, sebuah pilihan yang diambil untuk memperkuat pengenalan teritorial, membangun kedekatan dengan lingkungan setempat, sekaligus menjaga kondisi fisik tim sebelum pendakian. Di lokasi, tim membagi diri menjadi beberapa kelompok kerja kecil untuk menggali tradisi Adat Kenduri Sko melalui observasi partisipatif dan wawancara mendalam bersama tokoh adat dan masyarakat setempat. Riset ini berfokus pada prosesi ritus, nilai normatif kemasyarakatan, serta fungsi hukum adat tradisional. Dari data yang terkumpul, tim berhasil mengidentifikasi kearifan lokal Kenduri Sko yang berperan penting dalam menjaga integrasi sosial sekaligus melestarikan lingkungan sekitarnya. Setelah data dirasa cukup, tim kembali berjalan kaki menuju sekretariat untuk melanjutkan persiapan logistik pendakian menuju Basecamp Kersik Tuo, Desa Kayu Aro.
Dokumentasi bersama salah satu Tokoh Adat Kenduri Sko
Sumber: Mapach (2026)
Sebelum kembali ke Sekretariat WAPALSTIE, tim dibagi menjadi dua kelompok untuk membeli logistik pendakian dan merapikan perlengkapan. Setelah logistik lengkap, tim melanjutkan perjalanan menuju Basecamp Kayu Aro sekitar pukul 17.15 WIB menggunakan angkutan umum selama kurang lebih 4 jam. Setibanya di Home Stay Wita, tim beristirahat sejenak sebelum memeriksa kembali perlengkapan yang akan dibawa, menyelesaikan administrasi pendakian kepada pengelola gunung, dan memanfaatkan sisa waktu untuk memulihkan kondisi fisik menjelang pendakian menuju Gunung Kerinci keesokan harinya.
Pada Minggu, 22 Juni 2026, seluruh anggota tim mulai bersiap sejak pukul 05.00 WIB, memastikan perlengkapan pribadi telah lengkap sebelum pendakian dimulai. Pukul 08.40 WIB, tim berangkat menggunakan mobil pick-up menuju Pintu Rimba Gunung Kerinci sebagai titik awal pendakian, disambut suasana penuh semangat dan antusiasme. Pukul 09.20 WIB, tim sarapan bersama sebagai bekal energi, dilanjutkan dengan sesi dokumentasi di Pintu Rimba.
Dokumentasi di Pintu Rimba Gunung Kerinci via Kersik Tuo
Sumber: Mapach (2026)
Setelah registrasi ulang dan dokumentasi bersama, pendakian resmi dimulai pukul 10.20 WIB. Tim tiba di Pos 1 pukul 10.40 WIB dan beristirahat sekitar lima menit untuk mengatur ritme perjalanan. Perjalanan dilanjutkan pukul 10.45 WIB menuju Pos 2, tiba pukul 11.10 WIB dengan waktu istirahat sekitar sepuluh menit. Pukul 11.20 WIB, tim melanjutkan menuju Pos 3 dan tiba pukul 12.10 WIB, beristirahat sambil menikmati camilan hingga pukul 12.30 WIB sebagai persiapan menghadapi jalur berikutnya yang lebih panjang dan menantang. Perjalanan dari Pos 3 menuju Shelter 1 ditempuh selama kurang lebih dua jam empat puluh lima menit, dengan tim tiba pukul 15.15 WIB. Di Shelter 1, tim mendirikan tenda, memasak makan malam, menata perlengkapan, dan beristirahat guna memulihkan tenaga untuk pendakian keesokan hari.
Dokumentasi di Shelter 1
Sumber: Mapach (2026)
Keesokan harinya, tim bersiap dan berangkat dari Shelter 1 menuju Shelter 2 tepat pukul 10.00 WIB. Jalur ini didominasi tanjakan panjang sehingga membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk ditempuh.
Dokumentasi di Shelter 2
Sumber: Mapach (2026)
Setibanya di Shelter 2, tim beristirahat sekitar sepuluh menit untuk memulihkan tenaga, mengisi kembali cairan tubuh, serta memeriksa kondisi fisik seluruh anggota sebelum melanjutkan perjalanan menuju Shelter 3. Sepanjang rute ini, tim melewati Lorong Tikus, jalur yang dikenal luas di kalangan pendaki karena vegetasi hutan pegunungan yang lebat, akar-akar pohon yang melintang, serta kondisi tanah yang lembab. Tim tiba di Shelter 3 pukul 16.00 WIB. Sebagai lokasi perkemahan terakhir sebelum summit menuju puncak pada dini hari, tim segera mendirikan tenda dan menata perlengkapan, kemudian beristirahat sambil menikmati makan malam untuk memulihkan energi menjelang pendakian menuju Puncak Gunung Kerinci.
Dokumentasi di Shelter 3
Sumber: Mapach (2026)
Pada Rabu, 24 Juni 2026 pukul 02.00 WIB, tim memulai persiapan summit. Sebelum berangkat, seluruh anggota mengisi energi dengan makanan dan minuman hangat, serta melakukan pemanasan ringan untuk mengurangi risiko cedera sepanjang perjalanan.
Pendakian menuju puncak berlangsung di bawah langit yang cerah, menghadirkan pemandangan hamparan bintang, termasuk fenomena Milky Way yang tampak begitu jelas pengalaman yang turut menambah semangat tim untuk melanjutkan perjalanan. Medan menuju puncak tergolong menantang, dengan jalur berupa pasir vulkanik, bebatuan, dan tanjakan curam. Semakin mendekati puncak, tekanan udara yang menurun mengharuskan tim menyesuaikan ritme pendakian, sehingga beberapa kali dilakukan pemberhentian singkat untuk mengatur napas dan memastikan kondisi seluruh anggota tetap prima.
Sebelum mencapai puncak, tim melewati dua titik yang dikenal luas di kalangan pendaki, yaitu Batu Gantung dan Tugu Yudha. Tim beristirahat sekitar lima menit di Batu Gantung sebelum melanjutkan perjalanan. Setibanya di Tugu Yudha, tim disambut pemandangan matahari terbit yang memukau serta fenomena bayangan segitiga Gunung Kerinci (mountain shadow) yang terlihat jelas. Momen ini dimanfaatkan untuk menikmati keindahan alam, mengabadikan dokumentasi, serta menyeduh minuman hangat dan menikmati makanan ringan.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak, seluruh anggota tim bersama-sama memanjatkan doa untuk mengenang almarhum Yudha Sentika, anggota pencinta alam SMA Negeri 68 Jakarta yang dilaporkan hilang saat mendaki Gunung Kerinci pada 23 Juni 1990. Doa ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat pentingnya menjaga keselamatan dalam setiap kegiatan pendakian.
Dokumentasi di Tugu Yudha
Sumber: Mapach (2026)
Perjalanan berlanjut selama kurang lebih satu jam hingga tim akhirnya tiba di Puncak Gunung Kerinci. Di puncak, seluruh anggota menikmati panorama menakjubkan berupa hamparan pegunungan dan kawah aktif Gunung Kerinci yang megah. Tim menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk beristirahat, melakukan dokumentasi, dan menikmati suasana sebelum memulai perjalanan turun.
Dokumentasi di Puncak Gunung Kerinci
Sumber: Mapach (2026)
Pukul 08.30 WIB, tim memulai perjalanan turun menuju Shelter 3 dengan penuh kehati-hatian mengingat jalur pasir vulkanik dan bebatuan yang licin. Perjalanan ini ditempuh sekitar satu setengah jam. Setibanya di Shelter 3, tim beristirahat, menikmati makan siang, melaksanakan ibadah, dan memulihkan kondisi fisik sebelum bersiap melanjutkan perjalanan turun menuju Pintu Rimba. Namun, saat tim hendak mengemas carrier dan perlengkapan, hujan deras tiba-tiba mengguyur kawasan Shelter 3. Demi keselamatan bersama, tim memutuskan menunda keberangkatan hingga jalur yang basah dan licin kembali memungkinkan untuk dilalui.
Setelah hujan reda, tim melanjutkan perjalanan turun menuju Pintu Rimba selama kurang lebih sembilan jam. Ritme perjalanan sedikit melambat karena salah satu anggota mengalami keseleo, sehingga diperlukan penyesuaian kecepatan dan pendampingan agar seluruh anggota tetap dapat turun dengan aman. Di tengah udara dingin dan suara satwa hutan yang menemani sepanjang jalur, seluruh anggota tim tetap menjaga semangat dan saling membantu, hingga akhirnya tiba dengan selamat di Pintu Rimba pukul 22.00 WIB.
Setelah menunggu kendaraan penjemput sekitar satu jam, tim meninggalkan kawasan Gunung Kerinci pukul 23.00 WIB menuju Home Stay, dengan singgah terlebih dahulu di sebuah rumah makan Padang untuk membeli makan malam. Setibanya di Home Stay, seluruh anggota membersihkan diri, menikmati makan malam, dan beristirahat sebagai persiapan kembali ke Sekretariat WAPALSTIE keesokan harinya.
Keesokan harinya, sambil menunggu angkutan umum, tim memanfaatkan waktu luang untuk berjalan kaki membeli oleh-oleh bagi keluarga, teman, dan kerabat sekaligus menjadi kesempatan terakhir menikmati suasana Gunung Kerinci. Sekitar pukul 16.00 WIB, tim berangkat menuju Sekretariat WAPALSTIE dan tiba dengan lancar pukul 17.30 WIB. Malam harinya, tim menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar sekretariat sebelum beristirahat dan bermalam di sana.
Pada Minggu pagi, 26 Juni 2026, sebelum meninggalkan Sekretariat WAPALSTIE, tim berpamitan dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar WAPALSTIE atas sambutan hangat, bantuan, serta fasilitas yang telah diberikan selama ekspedisi berlangsung. Momen perpisahan ini ditutup dengan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan dan simbol terjalinnya silaturahmi antarorganisasi. Tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sekretariat Mata Angin di Bangko menggunakan mobil travel.
Dokumentasi bersama di Sekretariat WAPALSTIE
Sumber: Mapach (2026)
Tim tiba di Sekretariat Mata Angin pukul 15.00 WIB dan beristirahat sejenak sambil menunggu jadwal keberangkatan bus menuju Bandung. Beberapa anggota memanfaatkan waktu luang untuk berjalan-jalan di sekitar sekretariat dan mengunjungi Taman Kota Bangko yang tidak jauh dari lokasi. Bus yang seharusnya berangkat pukul 20.00 WIB baru tiba sekitar pukul 01.30 WIB dini hari karena kendala di perjalanan. Proses mobilisasi tetap berjalan lancar berkat bantuan rekan-rekan Mapala Mata Angin. Sebelum berangkat, tim kembali berpamitan dan menyampaikan terima kasih atas sambutan, bantuan, dan kebersamaan yang telah diberikan selama berada di Bangko.
Dokumentasi bersama MAPALA Mata Angin
Sumber: Mapach (2026)
Perjalanan menuju Bandung dimulai sekitar pukul 01.30 WIB dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 33 jam. Meski sempat mengalami beberapa kendala di tengah perjalanan sehingga waktu tiba mundur dari perkiraan pukul 11.00 WIB menjadi sekitar pukul 16.00 WIB seluruh anggota tim berhasil menyelesaikan perjalanan dengan selamat, sehat, dan dalam kondisi baik.
Demikian Berita Acara Ekspedisi Gunung Kerinci ini disusun sebagai bukti pelaksanaan kegiatan sekaligus dokumentasi perjalanan yang telah dilalui bersama. Semoga pengalaman, pembelajaran, dan nilai-nilai yang diperoleh selama ekspedisi ini menjadi bekal untuk terus menumbuhkan semangat kolaborasi, tanggung jawab, dan kepedulian dalam menjaga kelestarian alam Indonesia. SALAM MAPACH! (Avissa “Ayuh” Nafhan Yasmin, Epi “Kucai” Pitriani).
0 Comments